Karam

Senin, 04 Maret 2013



Menyelamatkan Kapal Karam
 
Presiden SBY sebagai ketua dewan pembina partai demokrat, layaknya pingin menyelamatkan kapal yang akan karam. SBY dengan sisa-sisa tenaganya pingin berupaya jadi nakhoda kapal yang telah oleng akibat kapal partai demokrat hampir tenggelam dihamtam badai korupsi.


Kapal partai demokrat yang lahir di jaman reformasi itu, hampir tenggelam ke basic laut, tidak barangkali lagi bisa diselamatkan. Dengan nyaris seluruh jejeran tokohnya terlibat korupsi. Maka, sebenarnya usaha-usaha presiden SBY, menyelamatkan partai demokrat, usaha yang percuma belaka.

Tampilnya presiden SBY hanya bikin kondisi jadi makin ruwet. Presiden SBY telah mendahului ketentuan kpk, yang belum dengan resmi jadikan ketua umum partai demokrat Anas Urbaningrum sebagai tersangka didalam masalah hambalang.

Cuma berbekal info perihal infomasi dari internal KPK yang bocor perihal ada sprindik ( surat perintah penyidikan ), lantas SBY menghimpun seluruh pengurus DPD demokrat seluruh Indonesia, lantas bikin fakta integritas yang di tandatangani seluruh DPD partai demokrat.

Sejatinya ini langkah yang amat rumit, serta menambah konflik. Kalau SBY bersabar serta tidak mempunyai keperluan lagi, mengingat SBY telah mustahil lagi tampak di th. 2014, kondisi politik di internal partai demokrat relatif dapat lebih tenang, serta tidak jadi tambah bergejolak.

Ambil alih kepemimpinan partai demokrat saat ini, berlangsung dualisme, pada presiden SBY sebagai kepala pemerintahan serta sebagai ketua partai. Dualisme ini sepatutnya mesti dihindari. Dikarenakan lahirnya sharing penyimpangan terhitung Abuse of Power ( penyalah gunaan kekuasaan ), tidak lain dikarenakan berlangsungnya dualisme. Pada ekskutif, kepala pemerintahan, serta sebagai pejabat partai.

Abuse of Power di jaman demokrasi ini, telah jadi epidemi di seluruh susunan susunan negara. Nyaris seluruh partai politik serta beberapa tokohnya yang turut terlibat didalam pemerintahan, lantas tidak dapat menggerakkan tugasnya serta kewajibannya.

Nyaris seluruh partai politik saat ini ini, bertindak Abuse of Power. Tak ada satupun prinsip partai politik yang diwujudkan didalam pemerintahan, yakni menciptakan Good Governance ( pemerintahan yang bersih ). Mereka tidak bisa jadi tauladan, berbuat kebijakan untuk keperluan rakyat, waktu mereka memegang kekuasaan.

Rezim yang lahir setelah orde baru, selanjutnya terjerat lagi pada pola pemerintahan lama. Justeru saat ini lebih massive ( luas ), serta terstruktur. Dikarenakan, keperluan seluruh partai politik masuk di seluruh level serta lini pemerintah, serta mereka lakukan penguasaan tiap-tiap instansi serta departemen, dan lembaga, tidak dalam rencana menciptakan Good Governance, namun mereka menjarah serta merampok negara dengan telanjang.

Bagaimana presiden SBY serta partai demokrat yang seslama ini penuh dengan retorika, serta janji pingin menciptakan pemerintahan bersih, justeru partai demokrat, beberapa tokohnya jadi orang-orang yang terlibat didalam beragam masalah korupsi. Pemerintahan serta partai demokrat yang dipimpin SBY, tidak bisa jadi tauladan yang prima.

Janji pembaharuan didalam kehidupan yang didengungkan jadi nada yang hampa, serta tanpa arti.


Katakan tidak pada korupsi hanya iklan yang karakternya klise. Tidak dibuktikan dengan tindakan yang konkrit serta riil.

Tentunya presiden SBY memolopori pemberantasan korupsi dengan tingkat hukuman yang maksimum. Nyatanya tidak. Buktinya konkritnya hukuman yang dijatuhkan pada angelina sondakh cuma dihukum 4, 5 th..

Belum lagi, cerita yang tidak enak, perihal masalah pajak, yang dihubungkan dengan keluarga presiden SBY, yang ditulis tvone tadi malam, sungguh jadi masalah yang amat serius.

Dimana tidak sepatutnya beberapa pemimpin serta keluarganya yang perlu jadi tauladan bertindak yang tidak pantas. Seluruhnya ini cuma menambah tingkat ketidak keyakinan penduduk pada partai demokrat.

Perpecahan yang lebih didalam tentu dapat berlangsung di internal partai demokrat, pasca pengambil alihan oleh presiden SBY. Dikarenakan, ketua umum Anas Urbaningrum, mempunyai pengikut yang tidak sedikit, terutama di tempat. Anas Urbaningrum yang bekas ketua umum HMI ( himpunan mahasiswa islam ) itu, memperoleh dukungan di tempat yang cukup kuat. Nampaknya lakukan perlawanan pada penggulingan dirinya.

Partai demokrat di hantam badai krisis yang hebat, tidak cuma korupsi semata, namun partai itu saat ini hadapi krisis yeng lebih sensitif, konflik di internal mereka. Pada grupnya Anas serta presiden SBY. Posisi presiden SBY tidak terlampau kuat dukungannya, terlebih dengan matematis, presiden SBY peranannya telah dapat habis, berbarengan dengan periode akhir jabatannya.

Nampaknya, presiden SBY yang telah habis periode jabatannya di 2014 kelak, terus berupaya menyelamatkan kapal partai demokrat, yang hampir karam, serta presiden SBY butuh ada kemampuan partai yang bisa menjaganya dengan aman, pasca pemerintahannya kelak. Wallahualam

Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Islam - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Inspired by Sportapolis Shape5.com
Proudly powered by Blogger