Mencermati peminggiran peran Islam dalam kehidupan berbangsa dan
bernegara dewasa ini mendorong Adab Institute Jogja, sebuah lembaga
pengkajian ilmiah non-profit yang berdedikasi kepada umat dalam bidang
dakwah dan penelitian khazanah pemikiran dan peradaban Islam dari
perspektif framework pemikiran Islam yang tidak terkontaminasi dengan
paradigma liberal-sekuler, mengadakan seminar bertajuk “Pendidikan
Sejarah Nasional Indonesia dalam Perspektif Islam". Bekerjasama dengan
Lembaga Pendidikan Bahasa Arab & Studi Islam Ma’had Ali bin Abi
Thalib Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), acara yang dihelat di
Ruang Sidang Fakultas Teknik UMY ini menghadirkan pakar sejarah Islam,
yang juga peneliti Insist Jakarta dan ketua umum Pimpinan Pusat Pemuda
Persis, Tiar Anwar Bachtiar, M.A.
Dalam sambutannya, Direktur Adab Institute Jogja, Fathurraham
Kamal, menegaskan, di antara problem penting yang dihadapi oleh umat
Islam saat ini adalah pudarnya semangat mengkaji, memahami dan menyadari
kejayaan masa lalu Islam yang gemilang, khusunya di nusantara. Generasi
muda kehilangan kesadaran yang baik dan kebanggaan tentang sejarahnya
sendiri, yang kemudian menimbulkan sikap inferiority complex dalam
mengaktualisasikan peran keIndonesiaan mereka. Menyitir pandangan
Mohammad Asad, (Leopold Weiss) dalam bukunya, Islam at the Crossroads,:
“Tidak ada peradaban yang bisa makmur - atau bahkan eksis, setelah
kehilangan kebanggaan dan hubungan dengan masa lalu mereka sendiri” (No
civilization can prosper – or even exist, after having lost this pride
and the connection with its own past…).
Kegalauan kesejarahan ini dimanfaatkan betul oleh pihak-pihak
yang tidak menyukai Islam melalui upaya pendistorsian sejarah perjuangan
umat Islam. Untuk konteks Indonesia, wacana digiring kepada “Islam
merupakan pendatang yang seharusnya harus menyesuaikan diri dengan
‘budaya asli’ bangsa Indonesia. Ingat, Nusantara dan Republik ini eksis
meraih kemerdekaannya karena cucuran keringat dan banjir darah para
syuhada’!”, ungkap alumni Fakultas Dakwah & Ushuluddin Universitas
Islam Madinah Saudi Arabia ini.
Alih-alih melakukan konsolidasi, para aktivis Islam baik yang di
dataran elite maupun para mahasiswa masih sibuk dengan kampanye
membesarkan kelompoknya masing-masing. “Sehingga diperlukan perubahan
mendasar untuk menyatukan umat Islam Indonesia dalam konsep keummatan
yang tidak cukup dengan jalinan psikologis-emosional silaturahim semata,
tapi harus mengedepankan jalinan keilmuan, silatul ‘ilmi.” tutur
Fathurrahman.
Tampil sebagai pembicara tunggal, Tiar Anwar Bachtiar, M.A.
memulai presentasinya dengan menampilkan foto Candi Borobudur. Sudah
menjadi kemahfuman bagi masyarakat internasional bahwa Indonesia adalah
negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia. “Tetapi ikon yang
ditonjolkan dan selalu ditampilkan ke luar negeri adalah Candi
Borobudur?” kritik kandidat doktor bidang Sejarah Universitas Indonesia
ini.
Keindonesiaan yang direpresentasikan melalui Borobudur termasuk
satu kesadaran sejarah yang dipaksakan. Padahal banyak bangunan lain
yang bisa ditampilkan. Banyak masjid-masjid kuno dengan arsitektur
berfilosofi tinggi yang bisa dijadikan ikon dan juga dibuat oleh “nenek
moyang orang Indonesia”.
Situasi ini bukan sekedar karena Borobudur telah diakui sebagai
salah satu keajaiban dunia, tetapi ada kolonialisasi paradigma dimana
peran umat Islam yang begitu besar coba untuk dihilangkan. “Banyak yang
terjadi di masa lalu. Tidak semua bisa dituliskan. Sejarawan memilihkan
untuk kita, mana yang perlu diingat dan mana yang dilupakan. Sebagaimana
Voltaire menukil, yang menang peranglah yang menulis sejarah,” ujar
Tiar.
Riset yang dilakukan oleh Tiar terhadap konten Buku Pelajaran
Sejarah Nasional Indonesia, untuk siswa-siswi SMA mempertegas penegasian
peran umat Islam dan bahkan Islam ditempatkan sebagai pemecah belah.
Salah
satunya adalah teks yang menyatakan Kerajaan Majapahit sebagai
pemersatu Indonesia. Majapahit dianggap memainkan peran dalam menyatukan
Indonesia, baik secara politik maupun ekonomi. “Sumpah Palapa” yang
diikrarkan Patih Gadjah Mada disebut sebagai tonggak bersejarah
penyatuan Nusantara.
“Seharusnya kita mempertanyakan, apakah yang dilakukan Majapahit
menjajah atau mempersatukan? Jika kemudian proses ‘penyatuan’ itu
dilakukan dengan peperangan dan bersimbah darah, kemudian daerah yang
mampu ditaklukkan diwajibkan memberikan upeti dan dijadikan daerah
koloni, apakah masih rasional jika kita mengatakan Majapahit sebagai
pemersatu?”, timpal Tiar.
Tidak sampai hanya di situ. Islam juga dikambing-hitamkan sebagai
penyebab keruntuhan Majapahit. “Setelah Wikramawardhana meninggal
(1429) takhtanya digantikan oleh Suhita yang memerintah hingga 1447.
Sampai dengan akhir abad ke-15 masih ada raja-raja yang memerintah
sebagai keturunan Majapahit , namun telah suram karena tidak ada
persatuan dan kesatuan sehingga daerah-daerah jajahan satu demi satu
melepaskan diri. Para bupati di pantai utara Jawa, seperi Demak, Gresik,
dan Tuban telah menganut agama Islam sehingga satu per satu memisahkan
diri dari Majapahit,” kutip Tiar.
Tudingan kedua yang implisit dalam buku ajar itu adalah
kerajaan-kerajaan Islam terutama Kerajaan Mataram disebut berkembang
atas pandangan sinkretisme, bukan atas dasar prinsip ajaran Islam.
Kebudayaan Kejawen yang merupakan akulturasi antara kebudayan Jawa,
Hindu, Buddha dengan Islam ditempatkan sebagai “budaya adiluhung Jawa”.
Padahal upacara-upacara dan penanggalan Jawa Islam yang dilakukan Sultan
Agung bukan proses sinkretisasi tapi Islamisasi.
“Peminggiran peran umat Islam dalam penulisan buku-buku ajar
Sejarah Indonesia terus berlanjut kepada porsi halaman yang tidak
proporsional, ketika membahas organisasi pergerakan Islam seperti
Muhammadiyah, NU, Persis, SI, dan sebagainya. Bayangkan saja,
Muhammadiyah yang berperan besar dalam perjalanan sejarah bangsa ditulis
tak sampai 1 halaman,” ungkap Tiar yang juga Ketua Pemuda Persatuan
Islam ini.
Tak dapat dipungkiri penulisan buku-buku sejarah di
Indonesia sangat bergantung kepada literatur-literatur yang ditulis oleh
ilmuan imperialis yang membawa misi pelanggengan penjajahan. Maka tak
mengherankan jika kemudian peran Islam tak banyak disebut atau
dikaburkan sehingga terkesan sebagai pendatang yang menyebabkan
kehancuran kebudayaan yang lebih dulu eksis.
“Namun, hal itu tidak membuat kita apatis dan elergi dengan
buku-buku yang ditulis oleh sejarawan Barat. Ada banyak fakta-fakta yang
bisa diambil untuk kemudian disusun kembali. Selain itu, masih ada 90%
naskah-naskah kuno Nusantara yang belum serius diteliti. Jika
naskah-naskah itu bisa dimaksimalkan sejarawan Muslim, maka harapan
melahirkan buku-buku sejarah yang menempatkan Islam secara proporsional
bisa diwujudkan,” Jelas Tiar.
Menanggapi pertanyaan dari salah seorang audiens terkait Buku
Aliran Syiʼah di Nusantara karangan Prof. Abu Bakar Atjeh yang
mengatakan Islam Syi’ah yang masuk pertama kali di Nusantara dengan
bersandarkan kepada keberadaan Kerajaan Perlak (840 - 1292 M) yang
bermahzab Syiah dan keberadaan makam Fatimah binti Maimun, di desa
Leran, Manyar, Gresik yang batu nisannya bertuliskan tanggal wafat 7
Rajab 475 Hijriyah (2 Desember 1082 M), Tiar mengungkapkan bahwa
pandangan Prof. Abu Bakar Atjeh sudah banyak dikritisi oleh para
sejawaran. Mahzab Syi’ah baru tampil sebagai mahzab negara lewat
kehadiran Kerajaan Safawi yang berdiri pada awal abad ke-13. Sehingga
sangat kecil kemungkinan Mahzab Syiah adalah pembawa Islam pertama di
Indonesia. Bahkan HAMKA berpendapat bahwa Islam sudah masuk ke Nusantara
pada awal abad ke-7 dengan bukti sebuah naskah Tiongkok yang
menceritakan keberadaan kelompok bangsa Arab yang telah bermukim di
pantai Barat Sumatera (Barus) kala itu.
Di akhir presentasinya, Tiar mengajak para aktivis Islam untuk
tidak memutus jalur keilmuan dengan mengabaikan peran para ulama-ulama
Nusantara dan para tokoh-tokoh pejuang Islam Indonesia. “Sanad
pembelajaran Islam yang terputus hanya akan membuat kita semakin jauh
dari ulama kita sendiri. Ujungnya adalah kesalahan dalam mendakwahkan
Islam di tengah-tengah masyarakat Indonesia. Kita punya ulama-ulama
besar sekaliber Nuruddin Al-Raniri yang karya-karyanya menjadi kajian
ilmuan dunia, Syaikh Nawawi al-Bantani,Mahfudz At Tirmasi, dan Syaikh
Achmad Chatib Al Minangkabawi yang pernah menjadi Imam Mahzab Syafi’i di
Makkah, HAMKA yang dianugerahi gelar Doktor oleh Universitas Al Azhar
Mesir, serta Natsir yang keilmuannya dikagumi oleh berbagai tokoh
dunia,” tutup Tiar. (Anggun Gunawan-Adab Institute Jogja). Muslim Daily
0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !